Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum menginjakkan kaki ke negara kepulauan Jepang, Sissy berangan-angan akan liburan bersama keluarga yang takkan terlupakan. Tanpa disadari, angannya akan menjadi kenyataan. Hanya saja tak seperti yang ia bayangkan. Wanita yang gemar bersolek dan berprofesi sebagai penata rias ini tak tahu-menahu bahwa sebuah badai besar yang terakhir kali menimpa jepang 25 tahun lalu akan menimpanya dan keluarga di Osaka. Rencana berlibur ke negeri Nippon sudah dimatangkan jauh-jauh hari. Tiket pesawat dan kereta, biaya hotel hingga kegiatan wisata yang akan dikunjungi beres di tangan Sissy. Bahkan, keraguan pihak sekolah mengizinkan anak-anak pergi berlibur di hari sekolahpun tak jadi alasan. Semangat kedua anaknya akan kunjungan ke Disneyland, Tokyo dan Universal Studio di Osaka berhasil mengalahkan hasrat belajar. Dalam hatinya ia bergumam, sekali ini saja mumpung semua anggota keluarga bisa berkumpul bersama-sama. Ketika pesawat dari Bandara Soekarno Hatta mendaratkan kakinya ke Ibu Kota Tokyo, berita TV mengabarkan adanya badai yang akan menimpa Jepang beberapa hari ke depan. "Tapi belum ada berita yang memperingatkan Osaka. Badainya baru diperkirakan jatuh di perairan antara Tokyo dan Osaka. Jadi aku tidak berpikir macam-macam," ungkap Sissy ketika dihubungi lewat telepon oleh CNNIndonesia.com pada Kamis (13/9). Secercah rasa khawatir belum timbul di benak Sissy dan sang suami. Selama mereka yang berotoritas mengamankan, ia pun tak segan untuk melanjutkan agenda. Puas menghabiskan empat hari penuh berwisata metropolitan di Tokyo, waktunya Sissy dan keluarga berlabuh ke ibu kota Prefektur Osaka pada Minggu petang. Malam berlalu dengan tenang, pagi pun datang membawa berita yang tak disangka. Badai Jebi dikabarkan akan menimpa Osaka besok siang. Tepat ketika Sissy dan keluarga semestinya mengunjungi taman hiburan Universal Studio. Perasaan khawatir perlahan hinggap di pikiran. Namun, pagi itu siaran berita hanya melaporkan kemungkinan layanan kereta yang akan tutup untuk sementara. Setidaknya belum ada konfirmasi bahwa agenda esok akan terganggu badai. Sissy menghela napas, berdoa dan mengharapkan yang terbaik untuknya dan keluarga.  Hempasan ombak di Kochi saat Badai Jebi melanda Jepang. (Kyodo/via REUTERS) | Sayangnya kekhawatiran tersebut menjadi nyata. Hari semakin larut, berita lokal pun semakin ramai. Universal Studio dikabarkan takkan beroperasi besok berkat badai yang diperkirakan dapat membahayakan nyawa. Sissy dan suami bergegas menghubungi pihak taman hiburan. "Katanya tanggal 5 sudah dibuka lagi. Jadi kita percaya diri saja akan berkunjung ke Universal Studio sehari setelah badai lewat," begitu tuturnya. Hari yang tak dinanti-nantipun tiba. Selasa (4/9), Kota Osaka berdiri layaknya kota yang ditinggalkan. Restoran, tempat wisata, toko hingga butik-butik kecil yang berjejer di penjuru kota menutup pintu rapat-rapat. Tak hanya kereta yang berhenti beroperasi di hari itu, taksipun tak berani menerima penumpang. Mereka yang berada di Osaka terjebak menantang badai hingga hari esok. Berdiri sebuah swalayan kecil di dekat hotel penginapan Sissy dan keluarga, satu-satunya toko yang masih beroperasi. Warga lokal maupun turis berbondong-bodong mengunjungi petak kecil itu. Sissy dan suami merupakan salah dua dari gerombolan pengunjung. Berbagai kebutuhan pangan mulai dari cemilan hingga mie instan ia masukkan ke keranjang. Kalau saja badai memiliki niat yang tak bersahabat, setidaknya anak-anaknya tak akan kelaparan. Di samping kehebohan warga akan datangnya badai, pagi itu matahari masih bersinar cerah. Angin pun menghembuskan napas seolah tak mau membahayakan. Sissy mengaku sempat meremehkan badai yang akan datang. "Cuacanya masih cerah, angin juga biasa saja. Aku kira orang-orang Jepang yang berlebihan,". Namun alam berkata lain menjelang siang. Ketika Sissy dan anak-anak sedang asyik bersantai, cuaca di luar jendela kamar mulai terlihat mengerikan. Rasa penasaran mendorong ia dan keluarga turun ke lobi hotel. Tak disangka-sangka penampakan di luar lobi hotel sungguh dahsyat.  Pepohonan tumbang di Nagoya akibat Badai Jebi. (AFP PHOTO / JIJI PRESS) | Daun hingga batang pohon melayang-layang dihembus badai. Suara gemuruh angin bagaikan mesin kereta. Gedung tempat kakinya berpijak ikut tergoncang seolah gempa sedang melanda.Selama dua jam penuh Sissy dan keluarga terjebak di lobi hotel, berdiri sejauh mungkin dari pintu kaca yang menjadi satu-satunya penghalang antara dirinya dan ganas badai. Pengunjung hotel tak dibolehkan keluar maupun naik ke kamar melalui lift atau tangga darurat. Ia terpaksa menyaksikkan geramnya Badai Jebi hingga usai. Setelah cuaca mereda dan kondisi dinyatakan aman, Sissy mengintip suasana di luar gedung hotel. "Karena kita di dalam hotel, jadi hanya bisa menyaksikan saja. Setelah keluar, ternyata memang parah kondisinya. Kaca-kaca di gedung pecah, pintu banyak yang ambruk. Bahkan rolling door di stasiun kereta sampai terbuka dan hancur," ungkap Sissy selagi memutar kembali suasana Osaka siang itu. Esok harinya, ia dan keluarga menelan kembali rencana berkunjung ke Universal Studio. Taman hiburan itu masih tutup berkat banyaknya kerusakan akibat badai. Merasa tak betah dan diselimuti ketakutan, Sissy mengujarkan keinginannya kepada sang suami untuk segera meninggal Osaka. Setelah tak berkutat dari layar handphone mencari info akan transportasi keluar Osaka, pihak stasiun akhirnya mengumumkan bahwa kereta sudah mulai beroperasi pagi itu dengan jumlah terbatas. Mereka pun bergegas dari hotel ke stasiun kereta sembari tak henti mendoakan slot kereta untuknya dan keluarga. Untungnya sebuah kereta arah Tokyo bersedia membawa Sissy dan keluarga keluar dari Osaka. "Sesampainya di kereta rasanya lega banget, akhirnya meninggalkan Osaka," ujarnya. Dua hari setelah badai berlalu, beberapa sanak saudara Sissy mengunjungi Osaka untuk berlibur. Di samping kesaksian Sissy dan keluarga akan hebatnya badai dan kerusakan yang dialami Osaka, kota di wilayah Kansai tersebut sudah kembali seperti semula. Seolah badai tak pernah menjejakan kaki di kota tersebut. Sebelumnya, Sissy juga mengaku pernah terjebak situasi menegangkan ketika berlibur. Ia sempat tak bisa pulang ke Jakarta ketika ia sedang berwisata di Bali dan bom menyerang. Hal serupa juga pernah menimpanya di Bali saat Gunung Rinjani meletus dan seluruh penerbangan dari maupun ke Bali dibatalkan. Kala itu ia terpaksa menaiki kapal ferry ke Surabaya sebelum akhirnya terbang kembali ke ibu kota. Walau begitu, Sissy mengaku tak kapok berpetualang mengelilingi nusantara maupun mancanegara. "Kan kita ngga bisa memprediksikan kapan bencana atau situasi seperti itu bisa menimpa. Jadi, berdoa saja untuk yang terbaik," begitu ujarnya. (fey/ard) Let's block ads! (Why?) via CNN Indonesia https://ift.tt/2D3xCtM |
0 Comments:
Post a Comment