Wednesday, September 12, 2018

Titik Akhir Mengumbar Nafsu di Ujungberung

Ujungberung juga dikenal dengan seni beladiri tradisionalnya yang disebut dengan Benjang, perpaduan seni dan beladiri. Ada yang menyebut, benjang berkembang sejak akhir abad ke-19. "Benjang itu konon katanya ada sejak zaman penjajahan," kata Agus Nurrohman (54), Sekretaris Umum Perkumpulan Benjang Jawa Barat kepada Liputan6.com, Sabtu, 11 Maret 2017.

Awalnya, sekelompok pemuda yang punya hobi beladiri membentuk perkumpulan berkedok seni melalui jalur agama. Kedok ini dibuat lantaran rezim kolonial tak menghendaki pemuda inlander bebas berlatih beladiri. Rezim khawatir, inlander bisa menghimpun kekuatan dan memicu pemberontakan di Karesidenan Ujungberung.

Saat larangan diberlakukan, surau dan pesantren mulai menjamur di Priangan. Rudat, tarian yang tumbuh bersamaan dengan penyebaran Islam di Nusantara, menjadi wahana pemuda untuk memadukan kesenian dan beladiri.

Perpaduan seni dan beladiri ini tumbuh dari pesantren dan menjadi sebuah permainan. Seperti dodogongan (permainan saling mendorong menggunakan kayu penumbuk padi), seredan (permainan saling mendesak tanpa alat hingga salah satu pemain keluar dari lapangan), dan mumundingan (gerakan saling mendorong menggunakan kepala).

Permainan tersebut terus berkembang dan banyak dimainkan anak laki-laki. Dari permainan ini, benjang lahir. "Artinya, benjang itu dulunya bukan beladiri, tapi permainan," kata Iman Firmasyah (38), seorang pelatih benjang di Kampung Ciborelang, Cileunyi --dahulu kawasan Ciborelang masuk dalam Karesidenan Ujungberung.

Dalam perjalanannya, benjang mengalami banyak modifikasi. Benjang tak semata permainan dan beladiri. Ada unsur hiburan yang kemudian hadir dalam seni tradisional ini.

Umumnya, masyarakat di Kecamatan Ujungberung mengenal iringan musik benjang ini sebagai benjang helaran, sebagai pembeda dari benjang gulat. Benjang helaran ini menggabungkan iringan musik waditra dan bangbarongan dan dihelat pagi hingga sore hari.

"Musik ini untuk ngabewarakeun (memberi tahu) ada benjang, dan menyemangati tukang benjang pas main malam hari," ujar Adin Sutardi (60), tukang benjang sekaligus pegiat benjang helaran.

Benjang terus menjadi permainan, kesenian, sekaligus beladiri, yang digemari masyarakat di Karesidenan Ujungberung. Apalagi, ada nilai tradisi yang diusung benjang.

Namun, Benjang yang saat lahir dilarang pemerintah kolonial, harus kembali dilarang saat zaman Orde Baru. Musababnya, benjang dianggap jadi sumber tawuran di Kecamatan Ujungberung pada 1970-an.

Apalagi, tawuran sampai melibatkan warga dan anggota TNI. "Sampai ramai perang antara Ujungberung dan Seni Pora (anggota TNI)," ucap Abdul Gani, Ketua Paguyuban Benjang Jawa Barat.

Hampir dua dekade lebih, benjang gulat absen dipertunjukkan di Alun-Alun Ujungberung. Hingga akhirnya, Orde Baru tumbang dan menyisakan harapan buat pegiat benjang.

Awal 2000, benjang gulat kembali bisa disaksikan di depan umum, tepatnya di Alun-Alun Ujungberung.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Eko Yuli Irawan menambah pundi-pundi medali tuan rumah lewat cabang olahraga angkat berat untuk nomor 62 kg putra.

Let's block ads! (Why?)

https://ift.tt/2x8fhq2
RSS Feed

If New feed item from http://ftr.fivefilters.org/makefulltextfeed.php?url=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Frss&max=3, then Send me an email


Unsubscribe from these notifications or sign in to manage your Email Applets.

IFTTT
Share:

Related Posts:

0 Comments:

Post a Comment